Alkisah suatu saat Ismail Al-Qadhi masuk kepada khalifah Abbasiyyah
waktu itu, lalu disuguhkan padanya sebuah kitab yang berisi tentang
keringanan dan ketergelinciran para ulama. Setelah membacanya dia
berkomentar : “Penulis buku ini adalah zindiq, sebab orang yang
membolehkan minuman memabukkan tidaklah membolehkan nikah mut’ah, dan
orang yang membolehkan nikah mut’ah tidaklah membolehkan nyanyian, tidak
ada seorang alim pun kecuali memiliki ketergelinciran. Barangsiapa
memungut semua kesalahan ulama niscaya akan hilang agamanya”. Akhirnya,
buku itu diperintahkan supaya dibakar. [Siyar A’lam Nubala
13/465,Adz-Dzahabi]
==============================================
Diceritakan ada lelaki yang sangat durhaka kepada sang ayah sampai
tega menyeret ayahnya ke pintu depan untuk mengusirnya dari rumah. Sang
lelaki ini dikarunia anak yang lebih durhaka darinya. Anak itu menyeret
bapaknya sampai kejalanan untuk mengusirnya dari rumahnya. Maka sang
lelaki berkata : “Cukup… Dulu aku hanya menyeret ayahku sampai pintu
depan”. Anak dari lelaki itu menimpali : “Itulah balasanmu. Adapun
tambahan ini sebagai sedekah dariku!”.
=====================================
Dzaadzan berkata :
“Saya adalah seorang pemuda yang bersuara merdu, pandai memukul
gendang, ketika saya bersama teman-teman sedang minum minuman keras,
lewatlah Ibnu Mas’ud, maka ia pun memasuki (tempat kami), kemudian ia
pukul tempat (yang berisikan minuman keras) dan membuangnya, dan ia
pecahkan gendang (kami), lalu ia (Ibnu Mas’ud) berkata : “Kalaulah yang
terdengar dari suaramu yang bagus adalah Al-Qur’an maka engkau adalah
engkau… engkau”.
Setelah itu pergilah Ibnu Mas’ud. Maka aku bertanya kepada temanku :
“Siapa orang ini ?” mereka berkata : “Ini adalah Abdullah bin Mas’ud
(sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam)”.
Maka dengan kejadian itu (dimasukkan) dalam jiwaku perasaan taubat.
Setelah itu aku berusaha mengejar Abdullah bin Mas’ud sambil menangis,
(setelah mendapatinya) aku tarik baju Abdullah bin Mas’ud.
Maka Ibnu Mas’ud pun menghadap kearahku dan memelukku menangis. Dan
ia berkata : “Marhaban (selamat datang) orang yang Allah mencintainya”.
Duduklah! lalu Ibnu Mas’ud pun masuk dan menghidangkan kurma untukku
[Siyar ‘Alamun Nubala 4/28]
=====================================================
Adalah Al-Hasan Al-Basri duduk dalam majelisnya dimana setiap hari ia
mengadakan majelis ditempat itu. Adapun Habib Al-Ajami duduk dalam
majelisnya dimana ahli dunia dan perdagangan mendatanginya. Dan ia lalai
dengan menjelis Al-Hasan Al-Basri, dan tidak menoleh sedikitpun dengan
apa yang disampaikan oleh Al-Hasan Al-Basri. Hingga suatu hari ia ingin
mengetahui apa yang disampaikan Al-Hasan Al-Basri, maka dikatakan
kepadanya : “Dalam majelis Al-Hasan Al-Basri diceritakan tentang surga,
neraka dan manusia diberi semangat untuk mendapatkan akhirat, dan
ditanamkan sikap zuhud terhadap dunia (memfokuskan segala karunia Allah
untuk akhirat). Maka perkataan ini menancap dalah hatinya, lalu ia pun
berkata : “Mari kita mendatangi majelis Al-Hasan Al-Basri!”, maka
berkatalah orang-orang yang duduk dalam majelis kepada Al-Hasan Al-Basri
: “Wahai Abu Said ini adalah Habih Al-Ajami menghadap kepadamu
nasehatilah ia. Lalu Habib Al-Ajami menghadap Hasan Al-Basri dan Hasan
Al-Basri menghadap kepadanya, lalu ia nasehati Habib Al-Ajami, ia
ingatkan dengan syurga, ia takut-takuti dengan neraka, ia hasung untuk
melakukan kebaikan, ia ingatkan untuk berlaku zuhud di dunia. Maka Habib
Al-Ajami pun terpengaruh dengan nasehat itu, lalu bersedekah 40 ribu
dinar. Dan iapun berlaku qona’ah (menerima) dengan hal sedikit, dan ia
terus beribadah kepada Allah hingga meninggal dunia” [Hilyatul Aulia
6/149 dengan sedikit perubahan, dan lihat Siyar ‘Alamun Nubala 6/144]
==============================================
Abu Nu’aim mengutip dalam kitab “Al-Hilyah” dengan sanadnya kepada Ibrahim bin Sulaiman Az-Zayyat, dimana ia berkata :
“Adalah kami berada disisi Sufyan Ats-Tsauri, lalu datanglah seorang
wanita dan mengeluhkan anak laki-lakinya, wanita itu berkata : “Wahai
Abu Abdullah saya mendatangimu agar engkau menasehatinya? Maka Sufyan
Ats-Tsauri berkata : Ya, datangkan anakmu itu”. Kemudian perempuan itu
datang bersama anaknya, maka Sufyan Ats-Tsauri pun menasehati anak itu,
setelah selesai berpalinglah anak itu pergi. Maka kembalillah wanita
tadi sesudah beberapa waktu dan berkata : “Semoga Allah membalasmu
dengan kebaikan wahai Abu Abdullah (Sufyan Ats-Tsauri)”, dan ia pun
menceritakan perilaku anaknya yang ia sukai setelah mendapat nasehat
Sufyan Ats-Tsauri.
Setelah beberapa lama, datanglah kembali wanita itu dan berkata :
“Wahai Abu Abdullah, annakku tidak pernah tidur dimalam hari, dan pada
siang hari ia berpuasa, tidak makan dan tidak pula minum. Maka
berkatalah Sufyan Ats-Tsauri : “Celaka anda, mengapa ia berbuat demikian
?” Wanita itu menjawab : “Untuk mencari hadits”. Maka Sufyan Ats-Tsauri
berkata : “Harapkanlah dirimu darinya pahala dari sisi Allah” [Hilyatul
Aulia 4/65,66]
Sufyan Ats-Tsauri adalah salah seorang ulama terkemuka, dan seorang
yang banyak menyuruh kebaikan, tidaklah ia takut celaan orang yang suka
mencela dijalan Allah, hingga berkata salah seorang diantara mereka ;
“Adalah saya keluar bersama Sufyan Ats-Tsauri, maka hampir-hampir
lisannya tidak putus dari menyuruh kebaikan dan melarang dari
kemungkaran baik ketika pergi atau pulang” [Hilayatul Aulia]
=======================================================
Ada sebuah kisah menarik tentang kematian Imam ash-Shan’ani (w
1182H), yaitu beliau tertimpa sakit perut (mencret) yang menguras isi
perut beliau .Keluarga beliau mencarikan obat tetapi tidak berguna
sedikitpun.
Kemudian dibawakan 2 buah buku kepada beliau, yaitu Al-Insan Al Kamil
karya Al Jili, dan al-Madhnun Bihi ‘Ala Ahlihi karya Al-Ghazali, yang
beliau pernah berkomentar : “Aku tidak menganggapnya sebagai karya
beliau. Buku ini hanyalah dinisbatkan secara dusta.” Kemudian imam
Ash-Shan’ani berkata : “Kemudian aku menelaah buku tersebut, maka aku
temukan buku tersebut berisi kekufuran yang nyata, maka aku perintahkan
supaya kedua buku itu dibakar dengan api dan apinya digunakan untuk
membuat roti untukku.” Kemudian beliau makan roti dengan niat sebagai
obat,setelah itu beliau tidaklah merasa sakit.
==================================================
Pada biografi Abu Kuraib Muhammad bin Al ‘Ala Al Hamdani (w.248)
,Muthayan berkata :”Abu Kuraib berwasiat agar buku-buku karyanya
dipendam, maka dilaksanakan wasiat beliau.”
Kemudian Adz-Dzahabi didalam Siyar 11/397 memberikan komentar :
“Beberapa ahli hadits telah mewasiatkan agar buku-bukunya dipendam,
dibakar, atau dicuci (dilunturkan tintanya), karena takut buku tersebut
dipegang oleh muhaddits yang kurang agamanya, kemudian ia akan
merubah-rubah dan menambahinya, kemudian hal itu dinisbatkan kepada
Al-Hafidz (ahli hadits pemilik kitab). Atau didalam kitab itu terdapat
riwayat yang putus atau lemah yang tidak pernah ia ceritakan, sedangkan
yang telah ia riwayatkan adalah hal-hal yang telah dipilih. Maka ia pada
akhirnya membenci hasil tulisannya, dan tidak ada jalan lain kecuali
harus dimusnahkan.Karena hal ini dan lainnya ia memendam buku-bukunya.”
Syaikh Masyhur berkata : “Buku-buku yang penuh dengan racun
kalajengking dan ular (yang berisi kejelakan dan kemungkaran) lebih
layak untuk dipendam, dimusnahkan dan dibakar.
==============================================
Seseorang dari Afrika berkata : “Ada seorang syaikh, di antara syaikh
Thariqah Sufi. Setiap selesai melakukan shalat, dia mengangkat
tangannya dan mendo’akan kecelakaan untuk Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab. Dia memohon kepada Allah, agar Allah menimpakan kerburukan
kepadanya …dan seterusnya”. Do’a yang menjadikan bergidik hati
orang-orang yang bertauhid.
Seorang Afrika tadi berkata : “Suatu kali aku mendatanginya, aku
membawa kitab tauhid, tetapi aku melepaskan sampulnya dan aku buang
judulnya. Aku menemuinya, duduk bersamanya, dan mulai mengobrol. Dia
(syaikh Sufi) berkata kepadaku : ‘Kitab apa ini ?’. Aku jawab : ‘Kitab
yang berisi ayat dan hadits, ditulis oleh seorang ulama’. Dia berkata :
‘Bolehkah aku membacanya?’. Maka seolah-olah aku berharap agar dia
tambah meminta dan penasaran. Aku lalu memberikannya, dan berkata :
“Tetapi aku ingin engkau meringkaskan kitab ini untukku, karena aku
tidaklah seperti anda, seorang alim yang agung, sehingga aku mendapatkan
manfaat”.
Maka besoknya dia kembali, lalu syaikh itu mengatakan : “Kitab ini
sangat bagus, kitab ini menjelaskan berdasarkan ayat dan hadits, bahwa
kita berada di atas kesesatan, kebodohan, dan penyimpangan. Didalamnya
hanya ada firman Allah dan sabda Rasul. Siapakah yang menyusunnya ?” Dia
menjawab : “Inilah penyusunnya, orang yang selalu engkau do’akan
kecelakaan pada waktu malam dan siang”. Maka syaikh itu bertaubat kepada
Allah saat itu juga. Dahulu dia selalu mendo’akan kecelakaan untuknya,
kemudian dia lalu mendo’akan kebaikan untuknya. Inilah Imam Muhammad bin
Abdul Wahhab.
======================================================
Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata: “Ketinggian Allah di samping
ditetapkan melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah ditetapkan pula melalui akal
dan fitrah. Adapun tetapnya ketinggian Allah melalui akal dapat
ditunjukkan dari sifat kesempurnaan-Nya. Sedangkan tetapnya ketinggian
Allah secara fitrah, maka perhatikanlah setiap orang yang berdo’a kepada
Allah Azza wa Jalla pastilah hatinya mengarah ke atas dan kedua
tangannya menengadah, bahkan barangkali pandangannya tertuju ke arah
yang tinggi. Perkara ini terjadi pada siapa saja, yang besar maupun yang
kecil, orang yang berilmu maupun orang yang bodoh, sampai-sampai di
dalam sujud pun seseorang mendapat kecenderungan hatinya ke arah itu.
Tidak seorang pun dapat memungkiri hal ini, dengan mengatakan bahwa
hatinya itu berpaling ke arah kiri dan kanan atau ke bawah.”
Ini adalah penjelasan bahwa allah berada di atas langit, dan bantahan
bagi yang menganggap allah ada dimana-mana, atau yang menganggap Allah
tidak bertempat.
=======================================================
Anas bin Malik meriwayatkan dari Aisyah Radhiallaahu anha, bahwa ada
seorang miskin meminta-minta kepadanya padahal dia sedang berpuasa,
sementara di rumahnya tidak ada makanan selain sekerat roti kering,
berkata Aisyah kepada pembantunya, “Berikan roti itu kepadanya,” si
pembantu menyahut, “Anda nanti tidak memiliki apa-apa untuk berbuka
puasa. Maka beliau berkata lagi, “Berikan roti itu kepadanya.” Perawi
mengatakan, “Maka pembantu itu melakukannya, dan dia berkata, “Belum
menjelang sore ada salah satu dari keluarga Nabi, atau seseorang yang
pernah memberi hadiah mengantarkan daging kambing (masak) yang telah ia
bungkus. Maka beliau memanggilku dan berkata, “Makanlah engkau, ini
lebih baik daripada rotimu tadi.”
(HR Malik dalam al Muwaththa’ 2/997)
=========================================================
Al-Haitsam bin Jamil meriwayatkan bahwa Fudhail bin Marzuq datang
kepada al Hasan bin Huyaiy karena ada kebutuhan yang sangat mendesak,
sedangkan dia tidak punya apa-apa. Maka al Hasan memberikan enam dirham
dan dia memberitahukan, bahwa ia tidak memiliki selain itu. Maka Fudhail
berkata, “Subhanallah, Saya mengambil semuanya sedangkan engkau tidak
punya yang lain?” Namun al Hasan enggan mengambil semuanya, dan Fudhail
juga enggan. Akhirnya dinar itu dibagi dua, dia ambil tiga dinar dan dia
tinggalkan tiga dinar.(Tahdzib al Kamal 23/308)
1 dinar sama dengan kira-kira 4,25 gram emas murni, sekitar 500ribu rupiah
1 dirham sama dengan kira-kira 3,3 gram perak, sekitar 10ribu rupiah
=========================================================
Diriwayatkan dari Yahya bin Hilal al Warraq dia berkata,”Saya datang
kepada Muhammad bin Abdullah bin Numair untuk mengadukan sesuatu
kepadanya, maka dia mengeluarkan empat atau lima dirham seraya berkata,
“Ini separuh harta yang ku miliki. Dan dalam kesempatan lain aku
mendatangi Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal, dia mengeluarkan empat dirham
dan berkata, “Ini keseluruhan yang aku miliki.” (riwayat Ibnul Jauzi
dalam Manaqib Imam Ahmad hal 320)
=========================================================
Dari Aun bin Abdullah dia berkata, “Seseorang yang sedang berpuasa
berteduh, ketika menjelang berbuka seorang pengemis datang kepadanya,
ketika itu dia memiliki dua potong kue. Maka salah satunya diberikan
kepada si pengemis, namun sejenak ia berkata, “Sepotong tidaklah
membuatnya kenyang, dan sepotong lagi tidak membuatku kenyang, maka
kenyang salah satu lebih baik daripada kedua-duanya lapar.” Akhirnya ia
berikan yang sepotong lagi kepada si pengemis. Kemudian ketika tidur dia
bermimpi didatangi seseorang dan berkata, “Min-talah apa saja yang kau
kehendaki.” Dia menjawab, “Aku minta ampunan. Orang tersebut berkata,
“Allah telah melakukan itu untukmu, mintalah yang lain lagi!” Dia
berkata, “Aku memohon agar orang-orang mendapatkan pertolongan.”
(riwayat ad Dainuri dalam al Mujalasah 3/47)
=========================================================
Imam Syafi’i rahimahullah pernah ditanya, “Bagaimana hasrat tuan
terhadap ilmu?”Beliau manjawab, “Saya seperti mendengar kata-kata yang
tidak pernah saya dengar. Saya bahkan ingin agar saya punya banyak
pendengaran, supaya bisa menikmati seperti yang dinikmati oleh kedua
telinga saya”. “Bagaimana kerakusan anda terhadap ilmu?” Beliau
menjawab,“Seperti rakusnya pencari harta yang mencapai puncak kenikmatan
karena hartanya.’ ‘Bagaimana tuan mencari ilmu?’ beliau menjawab
‘Seperti seorang ibu yang bingung mencari anaknya, yang semata wayang’.
Ibnu Asakir dalam menceritakan Abu Manshur Muhammad bin Husain
An-Naisaburi berkata, ‘Beliau terus bersungguh-sungguh dalam menuntut
ilmu, meski dalam kondisi fakir. Bahkan beliau mengulangi dan menulis
pelajarannya di bawah sinar rembulan, karena tidak mampu membeli minyak
lampu.’
Ibnu Katsir berkata, ‘Ilmu tidak bisa diperoleh dengan leha-leha.’
Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi berkata, ‘Untuk menuntut ilmu hadits,
saya mengalami kencing darah dua kali, pertama di Baghdad dan kedua di
Makkah. Hal itu karena saya berjalan dengan kaki telanjang di tengah
sengatan terik matahari. Saya tidak pernah naik kendaraan saat mencari
hadits kecuali sekali, dan saya selalu membawa kitab-kitab di punggung
saya.’ Sementara Imam Baqi bin Mukhallad Al-Andalusi pada tahun 221H
berjalan kaki dari Andalus (Spanyol) ke Baghdad untuk menemui dan
belajar kepada Imam Ahmad.
====================================================
Ahmad bin Ibrahim Al-Abbas berkata, ‘Ketika sampai berita wafatnya
Imam Muhammad Ar-Razi, saya masuk kamar dan menangis. Keluargaku
mengerumuniku dan bertanya, ‘Apa yang menimpamu?’ ‘Imam Muhammad Ar-Razi
telah wafat, kalian melarangku ke sana untuk menuntut ilmu,’ jawab-ku.
Akhirnya mereka mengizinkanku mencari ilmu kepada Syaikh Hasan bin
Sinan.’
Abu Ali Al-Farisi berkata: ‘Terjadi kebakaran besar di Baghdad, semua
kitabku terbakar, padahal saya menulisnya dengan kedua tanganku. Selama
dua bulan saya tidak kuasa berbicara dengan seorang pun, karena
kesedihan dan duka yang dalam, bahkan beberapa saat saya dalam keadaan
linglung.’ Imam Syu’bah bin Al-Hajjaj berkata, ‘Saya ingat, saya pernah
ketinggalan tidak mendengar satu hadits dari Syaikh saya, sehingga saya
sakit (karena sangat menyesal dan sedih akibat ketinggalan tersebut).
=================================================
Dikisahkan, Imam Asad bin Al-Furat melakukan perjalanan ke Iraq untuk
belajar kepada Syaikh Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani Rahimahullaah.
Imam Asad berkata, “Saya orang asing dan bekalku hanya sedikit,
bagaimana agar saya bisa belajar lebih dari sekedar mengikuti kajian
tuan?” Syaikh Asy-Syaibani menjawab, “Tetaplah ikut kajian pada siang
hari, dan saya khususkan waktu malam untuk mengajarimu sendirian.
Menginaplah di rumahku dan kamu akan saya ajari ilmu’. Imam Asad
berkata, “Maka saya pun menginap di rumah beliau, beliau mendatangiku
dengan membawa seember air. Beliau lalu membacakan ilmu untukku, jika
malam telah larut dan aku mengantuk, beliau mengambil air dan
memercikkannya ke mukaku, sehingga saya bersemangat lagi. Demikian terus
berlalu, sehingga saya selesai belajar ilmu apa saja yang saya
inginkan.”
Abul Qasim Al-Muqri’ berkata, Imam Al-Hazimi senantiasa menelaah
kitab dan mengarang hingga terbit fajar. Seseorang kemudian berkata
kepada pembantunya, ‘Jangan kamu berikan minyak untuk pelitanya,
barangkali beliau istirahat malam itu.’ Ketika malam tiba, Imam
Al-Hazimi meminta minyak kepada pembantunya. Lalu dijawab, minyaknya
telah habis. Imam Al-Hazimi lalu masuk ke rumahnya dan shalat di dalam
kegelapan malam sampai terbit fajar.’
“Waktu mengandung dirimu dulu, ibumu pasti ngidamnya kopi ya? Abis gara-gara kamu aku jadi susssaaahh tidur…”
Sms sms lucu, humor, dan gokil :
“Sejuta kata cinta ingin kusampaikan. Apa daya pulsaku habis! Kirimkan pulsamu, aku akan kirimi SMS cintaku…”
Sms sms lucu, humor, dan gokil :
Teman sejati selalu berbagi, kalo saya jadi laut, kamu jadi ikan, saya
jadi kumbang kamu jadi bunga, saya jadi matahari kamu jadi bumi, kalo
saya jadi tarzan, kamu mau jadi monyetnya?
Sms sms lucu, humor, dan gokil :
Cintailah sesamamu seperti kamu mencintai dirimu sendiri, tapi jangan
mencintai pacar sesamamu seperti kamu mencintai pacar kamu sendiri.
Sms sms lucu, humor, dan gokil :
Saat aku sedih kau disampingku, saat aku marah kau ada di dekatku. Saat
aku menangis kau disisiku, Sekarang aku sadar, jangan2 kau adalah
pembawa sial untukku.
Sms sms lucu, humor, dan gokil :
Sudah sejak lama aku memperhatikanmu, mencuri pandang hanya untuk
melihatmu, ku tak tahu apa yang harus aku katakan kepadamu agar kau
mengerti ada UPIL di hidungmu.
Sms sms lucu, humor, dan gokil :
Saat anda membaca SMS ini, mata anda akan terbuka, anda akan melihat tulisan ini, selanjutnya… terserah anda
Sms sms lucu, humor, dan gokil :
Burung gelatik makan keripik, elo cantik tapi munafik, makan keripik dan buah cempedak, dasar munafik muke luh badak!
Sms sms lucu, humor, dan gokil :
Sayang sering aku telp kamu… Aku sms kamu… ternyata kini aku sadar, ternyata… mmmmm aku lebih sayang sama PULSAKU.
Sms sms lucu, humor, dan gokil :
JANGAN GUE MELULU!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar